GARUT — Peringatan Hari Santri Nasional bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah perjuangan kaum santri, melainkan juga kesempatan untuk menelusuri kembali keteladanan para ulama yang mengabdikan ilmu, tenaga, dan kehidupannya bagi agama, bangsa, dan negara. Salah satu tokoh yang layak mendapat perhatian adalah Prof. KH. Anwar Musaddad, ulama besar asal Garut, Jawa Barat, yang kiprahnya melintasi dunia pesantren, perjuangan kemerdekaan, diplomasi kemanusiaan, organisasi keislaman, dan pendidikan tinggi.
Lahir dan tumbuh di Garut, KH. Anwar Musaddad merupakan sosok yang memperlihatkan bahwa tradisi keilmuan pesantren tidak bertentangan dengan wawasan kebangsaan dan kemajuan pendidikan. Sebaliknya, ilmu agama, keluasan pandangan, dan komitmen terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi bagian yang saling menguatkan dalam perjalanan pengabdiannya.
Jejak perjuangannya menjadi pengingat bahwa semangat santri tidak hanya hidup di ruang pengajian, tetapi juga hadir dalam keberanian membela kemerdekaan, kecakapan menghadapi persoalan masyarakat, dan kesungguhan membangun masa depan bangsa melalui pendidikan.
Dari Garut Menapaki Tradisi Keilmuan Islam
Prof. KH. Anwar Musaddad dikenal sebagai ulama-intelektual yang menempuh perjalanan pendidikan lintas lingkungan. Setelah mengenyam pendidikan formal di sekolah-sekolah pada masa kolonial, ia memperdalam pengetahuan Islam di Pesantren Cipari, Garut, kemudian melanjutkan pembelajaran agama di Jakarta sebelum menimba ilmu di Makkah.
Pengalaman tersebut membentuk keluasan perspektifnya. Ia tidak hanya mendalami khazanah keislaman, tetapi juga mengembangkan kemampuan bahasa dan pengetahuan perbandingan agama. Selama berada di Tanah Suci, ia belajar di Madrasah Al-Falah dan menghabiskan sekitar sebelas tahun untuk memperdalam ilmu agama.
Perjalanan intelektual ini memperlihatkan karakter penting seorang santri: kesediaan untuk terus belajar, ketekunan dalam menuntut ilmu, serta kemampuan memadukan kedalaman keyakinan dengan keluasan wawasan.
Pengalaman pendidikan formal dan pesantren yang dijalaninya juga menjadi bekal dalam membangun dialog, memahami masyarakat yang beragam, dan mengembangkan pendidikan Islam yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Kiprah Perjuangan: Ketika Ilmu dan Keimanan Berpihak kepada Bangsa
Perjuangan KH. Anwar Musaddad tidak berhenti pada kegiatan dakwah dan pengajaran. Dalam situasi penjajahan dan pergolakan menuju kemerdekaan, ia turut mengambil peran dalam membangkitkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membela tanah air.
Salah satu sisi penting perjalanan hidupnya berlangsung ketika ia berada di Makkah pada masa Perang Dunia II. Ia dipercaya memimpin Komite Kesengsaraan Indonesia atau Kokesin, yang berupaya membantu warga Indonesia di Tanah Suci yang mengalami kesulitan akibat terputusnya jalur pelayaran dan hubungan dengan tanah air.
Peran tersebut menunjukkan dimensi kemanusiaan dalam perjuangannya. Kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, dan ikhtiar diplomatik digunakan untuk memperjuangkan nasib sesama warga Indonesia dalam keadaan sulit.
Setelah kembali ke tanah air, kiprahnya berlanjut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sejumlah catatan sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyebut keterlibatannya dalam menggerakkan perjuangan rakyat melalui dakwah, pembinaan pemuda, dan lingkungan perjuangan Hizbullah di kawasan Priangan.
Dalam pandangannya, perjuangan tidak semata-mata dimaknai sebagai tindakan fisik, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran, menjaga persatuan, dan meneguhkan tanggung jawab terhadap Republik Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Dari perjalanan tersebut, terlihat bahwa semangat keislaman yang dibawanya beriringan dengan komitmen kebangsaan. Agama menjadi sumber nilai untuk menolak kezaliman, membela kemanusiaan, serta mendorong masyarakat mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan.
Membangun Pendidikan: Dari Pesantren Menuju Perguruan Tinggi
Selepas masa revolusi, KH. Anwar Musaddad melanjutkan pengabdiannya melalui dunia pendidikan. Ia menjadi bagian dari pengembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia, termasuk dalam perintisan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta, yang menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan tinggi Islam nasional.
Perjalanan akademiknya kemudian membawanya ke IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia tercatat sebagai rektor pertama perguruan tinggi tersebut, yang kini berkembang menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Pengabdiannya dalam pendidikan tinggi memperlihatkan besarnya perhatian terhadap penguatan tradisi akademik Islam dan pengembangan sumber daya manusia.
Di lingkungan akademik, KH. Anwar Musaddad juga dikenal atas keahliannya dalam bidang perbandingan agama. Perjalanan keilmuannya menunjukkan bahwa seorang ulama dapat berkiprah dalam pendidikan tinggi tanpa meninggalkan akar tradisi pesantren yang membentuk karakter dan pandangan hidupnya.
Warisan pemikirannya relevan dengan tantangan pendidikan masa kini: membangun generasi yang kuat dalam nilai keagamaan, memiliki keluasan ilmu, mampu berdialog, serta berkontribusi bagi masyarakat dan negara.
Al-Musaddadiyah: Melanjutkan Pengabdian dari Tanah Kelahiran
Salah satu warisan penting KH. Anwar Musaddad bagi masyarakat Garut adalah Pesantren Al-Musaddadiyah. Setelah berkiprah dalam pendidikan tinggi dan berbagai kegiatan pengabdian, ia kembali memberikan perhatian besar kepada tanah kelahirannya dengan mengembangkan lembaga pendidikan Islam.
Pesantren dan lembaga pendidikan yang dirintisnya menjadi bagian dari ikhtiar membangun generasi berilmu dan berakhlak. Melalui pendidikan, nilai perjuangan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan diteruskan dalam proses pembentukan karakter, penguatan kompetensi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi keluarga besar Al-Musaddadiyah, perjalanan hidup pendirinya bukan hanya sejarah tentang seorang ulama besar, tetapi juga amanah untuk menjaga keberlanjutan pendidikan. Lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab meneruskan nilai keilmuan, kedisiplinan, keteladanan, dan kepedulian kebangsaan yang menjadi bagian dari jejak pengabdiannya.
Dalam konteks pendidikan vokasi, teladan tersebut dapat diterjemahkan melalui pembentukan peserta didik yang berkarakter, kompeten, berintegritas, dan mampu menggunakan ilmu serta keterampilannya untuk memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya.
Hari Santri: Menghidupkan Warisan Perjuangan dalam Generasi Masa Kini
Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober memiliki hubungan erat dengan sejarah perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah mobilisasi perjuangan umat Islam untuk mempertahankan Republik Indonesia.
Dalam semangat sejarah tersebut, kiprah KH. Anwar Musaddad dapat dibaca sebagai gambaran luas tentang kontribusi seorang ulama bagi bangsa. Ia menghubungkan keilmuan Islam dengan kepedulian kemanusiaan, semangat kemerdekaan dengan pengabdian sosial, serta tradisi pesantren dengan pembangunan pendidikan.
Meski setiap tokoh memiliki peran dan perjalanan sejarah yang berbeda, keteladanan KH. Anwar Musaddad sejalan dengan nilai-nilai yang dihidupkan melalui Hari Santri: cinta tanah air, kesungguhan menuntut ilmu, pengabdian kepada masyarakat, dan tanggung jawab menjaga persatuan bangsa.
Bagi generasi muda, khususnya para pelajar di lingkungan Al-Musaddadiyah, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui kesungguhan belajar, penghormatan kepada guru, pembiasaan akhlak yang baik, penguasaan ilmu dan teknologi, serta karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menjadi penerus perjuangan tidak selalu berarti mengulang bentuk perjuangan pada masa lalu. Tantangan zaman telah berubah. Jika generasi terdahulu berjuang menghadapi kolonialisme dan mempertahankan kemerdekaan, generasi masa kini memiliki tanggung jawab membangun kualitas pendidikan, mengembangkan kompetensi, menjaga integritas, dan memajukan Indonesia melalui bidang masing-masing.
Merawat Sejarah, Meneruskan Pengabdian
Prof. KH. Anwar Musaddad meninggalkan teladan tentang luasnya makna pengabdian seorang ulama. Ia hadir sebagai pendidik, intelektual, penggerak perjuangan, dan perintis lembaga pendidikan. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa ilmu memperoleh makna yang lebih besar ketika diabdikan untuk kepentingan umat dan kemajuan bangsa.
Mengenang beliau dalam momentum Hari Santri Nasional bukan sekadar memberikan penghormatan kepada tokoh masa lalu. Lebih dari itu, pengenangan tersebut merupakan ajakan untuk menghidupkan nilai-nilai perjuangannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi SMKS Ciledug Al Musaddadiyah Garut dan seluruh keluarga besar Al-Musaddadiyah, warisan tersebut merupakan sumber inspirasi untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, membangun karakter peserta didik, dan mempersiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar nilai keislaman dan kebangsaan.
Sebab perjuangan tidak berakhir ketika kemerdekaan diraih. Perjuangan terus hidup dalam ilmu yang diamalkan, karakter yang dibangun, pendidikan yang dikembangkan, dan pengabdian yang diberikan kepada bangsa.
Selamat Hari Santri Nasional 2026.
Meneladani ulama, merawat sejarah, menguatkan pendidikan, dan meneruskan perjuangan untuk Indonesia.
Catatan sumber dan penyuntingan: Artikel ini disusun berdasarkan penelusuran literatur sejarah dan publikasi institusi. Untuk publikasi resmi, penulisan tahun kelahiran, rentang jabatan, serta rincian peran perjuangan perlu disesuaikan dengan dokumen biografi yang dijadikan rujukan utama.














.png)
.png)




.png)

.png)