Pesan untuk Generasi UnggulA Message for Future Leaders
Selamat datang di SMK Ciledug Al-Musaddadiyah. Kami hadir dengan tekad kuat untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia, terampil, dan siap menghadapi tantangan zaman dengan penuh percaya diri.
Welcome to SMK Ciledug Al-Musaddadiyah. We are committed to nurturing graduates who are not only academically excellent, but also morally grounded, skilled, and fully prepared to face the challenges of the modern world with confidence.
KH. M. Nasrullah Ramdhan, M.Si
Kepala SMK Ciledug Al-MusaddadiyahPrincipal of SMK Ciledug Al-Musaddadiyah
Yayasan Al-Musaddadiyah Garut
Program KeahlianStudy Programs
Pilih Jalur Karir TerbaikmuChoose Your Best Career Path
Tujuh program keahlian dirancang untuk mempersiapkan kamu siap kerja, wirausaha, dan melanjutkan studi.
Seven specialized programs designed to prepare you for employment, entrepreneurship, and further studies.
🌐 This article is in Bahasa Indonesia. Blog content is written by the school and is not auto-translated.
Halo semuanya, selamat Hari Pendidikan Nasional! Pada kesempatan kali ini, saya ingin sedikit berbagi pandangan tentang dunia pendidikan, khususnya peran guru dalam proses belajar siswa. Sebelum di Zenius, saya sempat berkecimpung di dunia pendidikan selama 5 tahun, baik sebagai mahasiswi jurusan pendidikan, guru, dan juga wali kelas. Nah, berdasarkan dari pengalaman tersebut, dalam peringatan hari pendidikan nasional kali ini, saya mau sedikit berbagi pandangan dan pengalaman saya tentang dunia pendidikan Indonesia secara umum, khususnya peran guru dalam mengajar.
Ngomong-ngomong soal hari pendidikan, biasanya peringatan hari pendidikan itu jadi moment untuk memberikan dukungan kepada profesi guru sekaligus sebagai bentuk apresiasi terhadap peran dan kontribusi guru dalam mendidik dan membangun generasi yang lebih baik. Memang nggak bisa dimungkiri, peran guru sangatlah besar dalam kehidupan sosial bermasyarakat, terutama untuk membangun peradaban dan generasi masa mendatang yang lebih baik. Nah, justru karena peran besarnya itulah... pada peringatan hari pendidikan nasional ini, saya ingin mencoba mengajak kita semua (khususnya para guru) untuk merefleksi bersama, terutama tentang sejauh mana peran seorang guru dalam membangun semangat belajar kepada para muridnya.
Mungkin sudah bukan hal baru lagi kalo saya mengatakan bahwa profesi guru masih dipandang sebelah mata di Indonesia. Sedikit-banyak mungkin karena masyarakat Indonesia umumnya beranggapan bahwa tugas seorang guru hanya sekadar mengajar di depan kelas dan memberi tugas kepada murid. Tapi menurut saya pribadi, tugas utama seorang guru bukan hanya mengajar, tapi juga memberi contoh, inspirasi, dan yang paling penting adalah membuat murid senang belajar serta menikmati proses belajar itu sendiri.
Dalam perspektif ini, saya berpendapat bahwa tolak ukur keberhasilan seorang guru itu bukan ditentukan oleh kepala sekolah maupun orangtua, tapi justru oleh murid-muridnya. Keberhasilan guru utamanya tercermin pada perubahan positif yang dialami oleh murid-muridnya. Perubahan positif itu bisa jadi macam-macam indikatornya, dari mulai pemahaman murid akan materi pelajaran, rasa antusias murid dalam mengikuti proses pembelajaran, dan yang paling penting adalah sejauh mana murid menikmati proses belajar yang dijalaninya tersebut.
Sayangnya, dari pengalaman saya berkecimpung di dunia pendidikan (baik sebagai siswi, mahasiswi, maupun guru), tidak semua guru sepakat dengan pandangan saya di atas. Maksudnya, masih banyak guru yang tidak menjadikan "antusiasme murid dalam belajar" sebagai tolak ukur utama dalam proses mengajar ; tapi justru menciptakan semacam sistem yang membuat murid-murid belajar dengan penuh keterpaksaan, seperti pemberian tugas dengan porsi yang tidak wajar, memberi sanksi dan hukuman dengan cara yang kurang tepat sasaran, dsb.
Dalam prakteknya, saya yakin setiap guru memiliki niat dan tujuan yang baik dalam mendidik murid, saya juga mengerti bahwa setiap guru memiliki style dan caranya masing-masing dalam menjalankan perannya sebagai pendidik. Saya sungguh sangat memahami itu karena biar bagaimanapun saya sendiri pernah menjadi seorang guru dan juga wali kelas. Namun terlepas dari itu, menurut saya ada beberapa 'style' cara mengajar yang saya kira perlu kita evaluasi lagi bersama. Karena saya khawatir, banyak guru yang mungkin tidak menyadari bahwa cara mengajar yang selama ini mereka terapkan itu kurang tepat dan bahkan berdampak negatif bagi para murid.
Okay, terlepas dari apakah pandangan saya ini tepat atau tidak, pada kesempatan kali ini saya hanya ingin berbagi pendapat dan pandangan saya lebih jauh tentang beberapa pendekatan guru dalam mengajar yang saya anggap keliru dan malah memberikan efek negatif terhadap murid-muridnya. Perlu saya tekankan bahwa mungkin beberapa pointdalam artikel ini adalah pendapat pribadi saya dan tidak mewakili sudut pandang Zenius secara umum. Semoga apa yang saya sampaikan dalam kesempatan ini, bisa menjadi refleksi kita bersama di hari guru nasional ini. Berikut adalah beberapa gaya pengajaran guru yang menurut saya keliru dan perlu kita refleksi ulang bersama:
1. Tugas dan PR yang tidak tepat
Sebagai seorang yang pernah menjadi guru, saya mengerti bahwa jam mengajar guru di sekolah terkadang terasa kurang untuk memastikan para murid untuk betul-betul memahami materi yang dibahas. Oleh karena itulah, guru memberikan PR atau tugas dengan harapan membantu para siswa memahami materi di luar jam kelas. Secara umum, tujuan guru memberikan PR/tugas kurang-lebih seperti ini:
Mengevaluasi materi yang sudah dipelajari di kelas.
Mendorong murid untuk berlatih mengerjakan soal.
Mendorong murid untuk mendalami pemahamannya untuk topik tertentu.
Di satu sisi, saya juga mengerti maksud dan tujuan guru itu baik dalam memberikan PR atau tugas, tapi saya kira ada saatnya PR/tugas yang diberikan tidak memberi dampak positif bagi para siswa. Wah, memangnya ada ya kasus dimana tugas/PR yang tidak memberi dampak positif, contohnya seperti apa? Sebagaimana yang telah saya sampaikan sebelumnya, yang paling berhak mengevaluasi guru adalah murid-muridnya, jadi coba yuk kita lihat beberapa curhatan murid zenius di bawah ini:
klik gambar untuk memperbesar
Dari beberapa potongan curhatan murid zenius ini, ada beberapa hal yang menurut saya agak ironis. Kenapa ironis? Karena tidak sedikit siswa yang justru menganggap bahwa tugas dan PR itu adalah beban yang menghalangi mereka untuk BELAJAR. Nah loh, padahal kan justru niat guru awalnya memberikan tugas itu supaya muridnya belajar, tapi dalam beberapa kasus malah menjadi halangan mereka untuk belajar.
Hal menarik berikutnya yang saya lihat adalah hasil survei zenius yang dilakukan pada 22 September 2014 hingga 15 Desember 2014 terkait persepsi siswa mengenai tugas yang diberikan guru mereka. Berikut adalah hasil 1340 responden pelajar dari berbagai pelosok Indonesia :
Survei zenius Sept - Okt 2014 terhadap 1340 responden siswa seluruh Indonesia terkait pemberian tugas oleh Guru.
Berdasarkan data di atas, kita bisa melihat bahwa sebetulnya sebagian besar siswa beranggapan bahwa tugas yang diberikan guru itu penting, tapi lucunya sebagian besar dari responden (dengan persentase yang sama yaitu 48%) juga berpendapat bahwa tugas dari guru itu membebankan. Dari sini, secara sederhana saya bisa mengambil kesimpulan bahwa sebetulnya sebagian besar siswa itu tidak bermasalah dengan adanya tugas dari guru, akan tetapi bentuk tugas/ jumlah / frekuensinya itulah yang menjadi masalah dan membebani siswa.
Menyingkapi hal ini, saya pribadi berpendapat bahwa PR dan tugas itu bisa jadi hal yang positif, dengan catatan porsinya wajar. Jika ingin memberikan tugas dan PR yang cukup banyak, sebaiknya guru memperpanjang tenggat waktu penyelesaian tugas dan PR tersebut mengingat kemungkinan siswa mendapat tugas dan PR dari guru mata pelajaran lain. Akan jauh lebih baik lagi, jika guru bisa memberikan tugas yang justru bisa menjadi pemicu siswa untuk menikmati proses belajar itu sendiri, memberi tantangan yang menarik bagi siswa untuk mencari tau lebih jauh materi yang mereka pelajari, bukan justru menekan siswa untuk harus belajar.
Di sisi lain, saya juga tau bahwa tugas seorang pelajar ya memang belajar. Tapi perlu kita sadari juga, bahwa definisi "belajar" bagi anak-remaja tidak hanya sebatas pada dinding ruang kelas, PR, atau tugas dari sekolah saja. Saya percaya, ada banyak hal di luar sana yang bisa menjadi bahan pembelajaran bagi siswa, di luar konteks akademis, seperti bersosialisasi, membaca, menonton film yang bermanfaat, berinteraksi lingkungan sosial, dsb. Intinya, jangan sampai jumlah/frekuensi tugas yang diberikan oleh guru bukan memberikan dampak positif, tapi membuat siswa merasa jenuh, tertekan, dan malah tidak menikmati proses belajar itu sendiri.
2. Pendekatan cara mengajar yang kurang tepat
Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa para siswa seringkali punya pandangan yang terpolarisasi terhadap cara mengajar guru-gurunya. Sederhananya, ada guru yang dipandang oleh para siswa sebagai guru yang cara ngajarnya asik, seru, mudah dipahami. Guru-guru seperti ini seringkali menjadi idola murid-murid bahkan jam pelajarannya ditunggu-tunggu oleh para siswa. Sementara itu, di sisi lain ada juga guru yang dipandang siswa sebagai guru yang cara mengajarnya membosankan, bikin ngantuk, materinya tidak menarik, dll. Dua bentuk polarisasi dari cara pandang siswa terhadap gurunya ini memang seringkali ada, bahkan bersifat kolektif. Kalo ada beberapa anak yang menganggap gurunya ini membosankan, masa satu kelas akan kompak menganggap guru tsb membosankan.
Menjadi seorang guru, memang bukan perkara yang mudah. Walaupun guru memiliki niat baik untuk mengajar, mendidik, dan membagikan ilmunya... ada saja murid yang ngobrol sendiri, ada yang ngelamun, ada yang main hape, ada yang malah gambar-gambar, dsb. Hal ini tentu membuat guru merasa jengkel, tidak jarang guru memutuskan untuk mengambil jalan tegas pada segala bentuk tindakan yang tidak menghargai jalannya proses belajar mengajar. Di satu sisi, saya mengerti bahwa setiap guru ingin merasa dihargai, tidak terlepas juga dengan saya. Namun di sisi lain, saya kira kita jangan sampai hanya berhenti pada solusi memarahi siswa. Karena sedikit banyak, hal itu justru akan menambah parah polarisasi cara pandang siswa terhadap guru-gurunya. Udah gurunya membosankan, galak lagi. Lengkaplah sudah.
Saya rasa, ada banyak cara yang bisa digunakan oleh guru untuk bisa "menguasai kelas", membawa suasana belajar yang menarik, seru, dan menciptakan atmosfir belajar yang sehat bagi para siswa. Cara untuk menguasai audience memang tidak mudah. Terus terang, sampai saat ini pun saya masih perlu banyak belajar untuk bisa membuat nuansa belajar yang positif di kelas. Tapi, sedikit-banyak saya hanya ingin berbagi beberapa tips yang mungkin bisa jadi masukan bagi guru-guru lain. Moga-moga tips yang saya bagikan ini bisa berguna bagi rekan-rekan guru yang lain.
A. Bangun interaksi dan hubungan emosional dengan para murid di luar kelas
Saat menjadi seorang guru, saya selalu berusaha untuk tidak membatasi interaksi saya kepada murid dalam lingkup akademis saja; tetapi saya mencoba memasuki kehidupan mereka. Dari hanya sekadar mendengarkan keluhan dan curhatan mereka, makan bersama, atau bahkan menyempatkan diri bergaul dengan mereka di waktu luang... semua itu saya rasa sangat membantu saya untuk membangun nuansa belajar yang positif di kelas.
Dengan membangun hubungan emosional dengan para murid, saya jadi jauh lebih mudah untuk menguasai kelas, berinteraksi langsung dengan murid yang saya anggap belum paham, membaca keinginan mereka, memahami cara mengajar seperti apa yang diharapkan oleh mereka, dsb. Sebaliknya, mereka pun jadi jauh lebih menghargai saya ketika mengajar, mereka jadi merasa enggan untuk main hape, asik ngobrol sendiri, atau melakukan tindakan apapun yang menunjukan sikap tidak menghargai usaha saya di kelas. Saya percaya, di sekolah seorang murid memang perlu memahami pelajaran, sementara seorang guru perlu memahami murid-murid mereka.
B. Fokus pada bagaimana cara membuat siswa menikmati proses belajar
Menurut pendapat saya pribadi, tugas seorang guru bukan hanya mengajar, tapi yang lebih penting adalah membuat murid-muridnya suka belajar. Hal ini mungkin terkesan sepele, tapi menurut saya cara pandang seperti ini krusial sekali dengan bagaimana cara guru membawa materi di kelas.
Dari pengalaman saya menjadi murid, seorang guru yang berfokus hanya pada konteks "mengajar", mentrasfer ilmu pada murid-muridnya, membawa misi agar murid-muridnya mampu mengerjakan soal... seringkali justru kurang berhasil membawa suasana kelas yang positif dan bersemangat untuk belajar. Di sisi lain, seorang guru yang fokus untuk membangun nuansa belajar yang positif dulu di awal, bercerita dulu tentang berbagai contoh nyata yang menggambarkan kenapa materi tersebut penting untuk dikuasai, kenapa materi itu menarik dan seru untuk dibahas... guru semacam ini lebih bisa membangun nuansa kelas yang siap menerima pengajaran, sehingga proses belajar-mengajar jadi lebih menyenangkan, seru, menarik, tidak membosankan, dan para siswa jadi lebih termotivasi belajar.
3. Memberi hukuman yang tidak menyelesaikan masalah.
Menjadi guru memang bukan pekerjaan yang mudah. Butuh kesabaran yang luar biasa untuk dapat mengendalikan emosi dalam mengontrol para siswa. Dari pengalaman saya menjadi guru dan wali kelas, memang selalu ada-ada saja ulah murid yang menjengkelkan, dari yang sering terlambat, bikin ribut di kelas, menyontek, lupa mengerjakan PR, dsb. Dalam hal ini, saya mengerti jika guru menggunakan metode hukuman untuk dapat lebih mudah mengontrol, mengendalikan perilaku siswa, sekaligus memberikan efek jera dan bentuk peringatan bagi anak-anak yang lain. Di satu sisi, hukuman memang cara yang paling praktis untuk membuat siswa berhenti melakukan kenakalan. Namun di sisi lain, apakah hukuman yang diberikan betul-betul dapat menyelesaikan masalah?
Seorang psikolog klinis dari Columbia University, Laura Markham, mengatakan bahwa hukuman tidak selalu mampu mengubah anak didik menjadi lebih baik, terutama untuk jangka panjang. Sebaliknya, menurut pendapat Laura, hukuman dari pihak otoritas (guru / orangtua) malah bisa membuat pihak terhukum merasa rendah diri, hilang kepercayaan, kerenggangan hubungan emosional, perasaan untuk terus memberontak, bahkan memicu kebohongan-kebohongan untuk menutupi kesalahan lainnya. Saya pikir, hal ini juga bisa jadi relevan dalam konteks hubungan guru dengan murid. Bentuk hukuman yang tidak tepat sasaran bisa berpotensi membuat siswa untuk bersikap antipati terhadap guru, bahkan membenci mata pelajaran yang diajarkan.
Dalam konteks ini, saya pribadi berpendapat bahwa sebagai guru, kita perlu mengevaluasi penerapan "hukuman" sebagai alat kontrol di dalam kelas. Terutama pada siswa yang sedang dalam umur-umur krusial untuk menumbuhkan rasa kecintaan mereka terhadap sebuah ilmu. Saya pribadi sebetulnya kurang sepakat dalam bentuk hukuman yang kurang relevan pada penyelesaian masalah. Seperti contohnya : berdiri di depan kelas dengan satu kaki, lari keliling lapangan 10 keliling, mencabuti rumput, hormat di depan tiang bendera selama berjam-jam, menulis berulang kalimat "aku tidak akan terlambat" sebanyak 100x, dan bentuk hukuman sejenisnya yang tidak berfokus pada penyelesaian masalah.
Dalam hal ini, bukan berarti saya berpendapat bahwa tindakan menghukum itu sama sekali tidak perlu. Memberi hukuman bisa jadi tepat jika proses itu memberikan pengertian bagi siswa bahwa tindakan dia itu keliru. Berilah hukuman jika itu membuat siswa memahami konsekuensi dan risiko yang relevan dari tindakannya. Akan jauh lebih baik lagi, jika bentuk hukuman, teguran, sanksi, atau perintah dari guru tersebut berorientasi pada penyelesaian akar masalah yang sesungguhnya, bukan sekadar menjadi bentuk cara untuk mengontrol, memberi efek jera, memberi contoh pada siswa lain, apalagi hanya untuk sekadar melampiaskan emosi dan kejengkelan terhadap murid tersebut.
Saya pribadi dalam prakteknya lebih menyukai pendekatan personal bagi setiap siswa yang bermasalah. Jika saya menemukan ada murid yang (katakanlah misalnya) sering terlambat, biasanya saya panggil untuk mengetahui akar permasalahannya. Jika ternyata akar masalahnya itu karena siswa tersebut memiliki kesulitan mengatur pola tidur, maka saya akan mencoba untuk membantu memberikan arahan, saran, atau mungkin perintah yang intinya berfokus untuk memberikan solusi terhadap siswa tersebut. Karena saya kira, memberi hukuman hormat tiang bendera selama berjam-jam tidak akan membantu memberi solusi dan menyelesaikan masalah seorang anak yang punya kesulitan mengatur pola tidur.
4. Sikap antikritik dan tertutup pada evaluasi
Point terakhir yang mau saya sampaikan adalah hal yang saya kira perlu kita semua renungkan, termasuk untuk diri saya sendiri. Menjadi seorang guru terkadang membuat diri kita selalu berada dalam posisi yang 'dominan' di depan kelas. Sehingga tidak jarang hal ini menumbuhkan sikap antikritik, tertutup pada evaluasi, bahkan merasa diri paling mengerti "caranya mengajar" karena pengalaman mengajar yang lama. Pada kesempatan ini, saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita semua adalah manusia biasa, yang tentu tidak luput pada kekeliruan. Oleh karena itu, saya kira peran seorang guru (yang notabene sangatlah penting) juga perlu diiringi rasa keterbukaan untuk dapat terus mengevaluasi diri dan terbuka pada kritik.
Saya tau bahwa memang setiap guru memiliki cara yang unik dalam mengajar. Ada yang pembawaannya cenderung serius, ada yang sambil bercanda, ada yang cuma duduk di kursi sepanjang jam pelajaran berlangsung, ada yang kalo ngajar nggak bisa diem, ada yang lebih suka menjelaskan secara satu arah, ada yang cenderung mengajak 2--3 orang siswa berinteraksi, ada yang suka mengajak seluruh kelas berdiskusi, dsb. Sebetulnya bagi saya, tidak masalah cara mengajar guru itu seperti apa, selama tujuan proses mengajar itu tercapai, yaitu siswa dapat memahami materinya dan juga menikmati proses belajar itu sendiri.
Masalahnya, agar tujuan dan proses mengajar itu tercapai... saya kira semua pendidik, tidak terkecuali (termasuk saya sendiri) rasanya perlu berani untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa, tidak semua style mengajar guru itu sukses dalam membuat murid paham dan menikmati proses belajar. Sayangnya, beberapa kasus yang saya perhatikan, ada saja oknum guru yang memiliki sikap antikritik, terutama jika mereka merasa sudah memiliki pengalaman mengajar yang jauh lebih lama daripada rekan-rekan guru yang lain.
Menurut pendapat saya, sikap seperti inilah justru yang bisa menjadi masalah yang fatal dalam dunia pendidikan kita. Karena bagi seseorang tertutup pada evaluasi, boleh jadi mereka memiliki pengalaman mengajar yang lama, tetapi sebetulnya, mereka hanyalah mengulang pola mengajar yang keliru dan itu terus berulang selama bertahun-tahun lamanya.
Untuk melahirkan generasi penerus yang lebih baik, saya kira para tenaga pendidik perlu memiliki sikap terbuka pada kritik dan evaluasi. Apakah cara mengajar kita selama ini sudah tepat? Apakah cara kita mengajar mampu membuat siswa paham dengan materi yang dipelajari dan menikmati proses belajar?
Untuk membantu proses evaluasi diri guru, para siswa juga diharapkan berperan di dalamnya. Tolak ukur keberhasilan guru dalam mengajar adalah siswa. Jadi kalau kita ingin mengetahui sudah sejauh mana keberhasilan kita dalam mengajar, tanya pendapat murid-murid kita ; bukan pendapat kepala sekolah, bukan pendapat orangtua, bukan siapa-siapa melainkan murid kita sendiri. Bagikan angket anonim yang berisi pertanyaan tentang kesan/cara mengajar kita selama ini. Saya percaya jika setiap pendidik memiliki keterbukaan pada kritik dan saran, maka kualitas guru di Indonesia akan semakin baik.
Itulah kurang lebih, beberapa pendapat dan pandangan saya tentang permasalahan dan tantangan yang kita hadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia, khususnya peran guru dalam mengajar di sekolah. Dalam hal ini, saya pribadi tentu masih jauh dari sempurna. Masih ada banyak hal yang perlu saya evaluasi dan tingkatkan terkait kompetensi saya dalam mengajar. Tapi melalui artikel ini, saya harap bisa mendapatkan kesempatan untuk sekadar berbagi pendapat dan pandangan dalam dunia mengajar bersama rekan-rekan guru, maupun para siswa di seluruh Indonesia.
Tentu apa yang saya bagikan melalui artikel ini, tidak terlepas dari pandangan subjektif saya yang masih sangat mungkin bisa keliru. Oleh karena itu, saya berharap akan adanya diskusi yang sehat, masukan, pendapat atau gagasan lain, dan evaluasi dari pembaca sekalian. Terlepas dari itu, semoga apa yang saya sampai di sini dapat menjadi masukan dan manfaat bagi dunia pendidikan, khususnya para rekan-rekan guru dari seluruh Indonesia.
Akhir kata, di hari pendidikan nasional ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pendidik di mana pun kalian berada. Tetaplah berkarya dan berjuang demi kemajuan ilmu pengetahuan, bangsa, dan negara. Selamat Hari Pendidikan Nasional !
Sumber :
Copy Dari https://www.zenius.net/blog/9573/cara-mengajar-guru-indonesia
🌐 This article is in Bahasa Indonesia. Blog content is written by the school and is not auto-translated.
Surakarta, Kemendikbud --- Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dirancang untuk mencetak lulusan yang siap terjun ke dunia kerja. Dengan demikian, pendidikan karakter yang dilakukan pada jenjang ini fokus pada penyiapan lulusan untuk masuk ke level tersebut.
“Pendidikan karakter itu dimulai dari jenjang SD dan SMP. Kalau di SMK, karakternya untuk siap bekerja. Kalau mental anaknya tangguh, soal keterampilan akan keluar dengan sendirinya,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, saat membuka Seminar Nasional Revitalisasi SMK, di Surakarta, Selasa (16/05).
Mendikbud mengatakan, karakter yang penting untuk masuk di dunia kerja adalah pribadi yang tahan banting. Untuk mendapatkan mental seperti itu, siswa dididik agar memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, juga tidak mudah menyerah atau putus asa. Kemauan untuk mencoba hal-hal baru harus ditumbuhkan, agar siswa dapat menjawab setiap tantangan.
Pentingnya membentuk karakter tahan banting, kata Mendikbud, guna menyiapkan tenaga kerja yang kompeten, produktif, dan kompetitif, menyongsong pasar bebas ASEAN. Indonesia dengan 250 juta penduduk merupakan target pasar yang potensial. Jika tidak siap, maka tenaga kerja Indonesia tidak dapat bersaing dalam pasar tersebut.
“Kalau industri bangun perusahaannya di negara tetangga, trus produknya dijual di sini, ini harus diwaspadai. Kita harus bisa bersaing,” katanya.
Guna mendukung agar pendidikan karakter di jenjang SMK merata hingga seluruh tanah air, Mendikbud mengatakan perlu varian kebijakan. Karena setiap kebijakan yang dikeluarkan seharusnya bisa mengakomodasi kebutuhan di setiap wilayah. “Akan dipikirkan (kebijakan) untuk jangka panjang,” ucapnya.
Mendikbud mencontohkan, Solo merupakan kota yang generatif. Artinya, Solo mampu membuat daerah-daerah di sekitarnya terus tumbuh. Dia mengatakan, perlu lebih banyak daerah seperti kota Solo bagi perkembangan vokasi di Indonesia. “Jangan sampai daerah-daerah kita bersifat parasitis, berkembang dengan menghabisi daerah-daerah sekitarnya,” katanya.
🌐 This article is in Bahasa Indonesia. Blog content is written by the school and is not auto-translated.
Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita ini tentang aku?”
Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”
Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.
“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”
Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.
Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.
Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.
🌐 This article is in Bahasa Indonesia. Blog content is written by the school and is not auto-translated.
Albert Einstein (14 Maret 1879–18 April 1955) adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20.
Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan “pengabdiannya bagi Fisika Teoretis”. Setelah teori relativitas umum dirumuskan, Einstein menjadi terkenal ke seluruh dunia, pencapaian yang tidak biasa bagi seorang ilmuwan.
Di masa tuanya, keterkenalannya melampaui ketenaran semua ilmuwan dalam sejarah, dan dalam budaya populer, kata Einstein dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan jenius. Wajahnya merupakan salah satu yang paling dikenal di seluruh dunia. Pada tahun 1999, Einstein dinamakan “Orang Abad Ini” oleh majalah Time. Kepopulerannya juga membuat nama “Einstein” digunakan secara luas dalam iklan dan barang dagangan lain, dan akhirnya “Albert Einstein” didaftarkan sebagai merk dagang.
Untuk menghargainya, sebuah satuan dalam fotokimia dinamai einstein, sebuah unsur kimia dinamai einsteinium, dan sebuah asteroid dinamai 2001 Einstein.
Berikut adalah kata-kata bijak Albert Einstein:
Cobalah tidak untuk menjadi seseorang yang sukses, tetapi menjadi seseorang yang bernilai. [Albert Einstein]
Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman. [Albert Einstein]
Terpuruk dalam masalah merupakan peluang hebat untuk kita. [Albert Einstein]
Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh. [Albert Einstein]
Ketika anda berpacaran dengan cewek yang manis, satu jam seperti sedetik. Ketika anda duduk di atas tungku panas, sedetik serasa satu jam. Itulah relativitas. [Albert Einstein]
Hukum gravitasi tidak berlaku terhadap orang yang sedang jatuh cinta. [Albert Einstein]
Di tengah kesulitan selalu terdapat kesempatan. [Albert Einstein]
Hal terindah yang dapat kita alami adalah misteri. Misteri adalah sumber semua seni sejati dan semua ilmu pengetahuan. [Albert Einstein]
Nasionalisme adalah penyakit yang kekanak-kanakan. Itu adalah penyakit campak dari ras manusia. [Albert Einstein]
Orang yang tidak pernah berbuat salah adalah orang yang tidak pernah melakukan sesuatu. [Albert Einstein]
🌐 This article is in Bahasa Indonesia. Blog content is written by the school and is not auto-translated.
Pada suatu hari, ada seorang anak perempuan yang mengeluh kepada ayahnya bahwa hidupnya sengsara dan bahwa dia tidak tahu bagaimana dia akan berhasil. Dia lelah berjuang dan berjuang sepanjang waktu.Tampaknya hanya salah satu dari masalahnya yang dapat ia selesaikan, kemudian masalah yang lainnya segera menyusul untuk dapat diselesaikan.
Ayahnya yang juga seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air dan menaruhnya di atas api yang besar. Setelah tiga panci tersebut mulai mendidih, ia memasukkan beberapa kentang ke dalam sebuah panci, beberapa telur di panci kedua, dan beberapa biji kopi di panci ketiga.
Kemudian ia duduk dan membiarkan ketiga panci tersebut di atas kompor agar mendidih, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun kepada putrinya. Putrinya mengeluh dan tidak sabar menunggu, bertanya-tanya apa yang telah ayahnya lakukan.
Setelah dua puluh menit, ia mematikan kompor tersebut. Ia mengambil kentang dari panci dan menempatkannya ke dalam mangkuk. Ia mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk.
Kemudian ia menyendok kopi dan meletakkannya ke dalam cangkir. Lalu ia beralih menatap putrinya dan bertanya, “Nak, apa yang kamu lihat?”
“Kentang, telur, dan kopi,” putrinya buru-buru menjawabnya.
“Lihatlah lebih dekat, dan sentuh kentang ini”, kata sang ayah. Putrinya melakukan apa yang diminta oleh ayahnya dan mencatat di dalam otaknya bahwa kentang itu lembut. Kemudian sang ayah memintanya untuk mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapatkan sebuah telur rebus. Akhirnya, sang ayah memintanya untuk mencicipi kopi. Aroma kopi yang kaya membuatnya tersenyum.
“Ayah, apa artinya semua ini?” Tanyanya.
Kemudian sang ayah menjelaskan bahwa kentang, telur dan biji kopi masing-masing telah menghadapi kesulitan yang sama, yaitu air mendidih.
Namun, masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Kentang itu kuat dan keras. Namun ketika dimasukkan ke dalam air mendidih, kentang tersebut menjadi lunak dan lemah.
Telur yang rapuh, dengan kulit luar tipis melindungi bagian dalam telur yang cair sampai dimasukkan ke dalam air mendidih. Sampai akhirnya bagian dalam telur menjadi keras.
Namun, biji kopi tanah yang paling unik. Setelah biji kopi terkena air mendidih, biji kopi mengubah air dan menciptakan sesuatu yang baru.
“Kamu termasuk yang mana, nak?” tanya sang ayah kepada putrinya.
“Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana caramu dalam menghadapinya? Apakah kamu adalah sebuah kentang, telur, atau biji kopi?”
Dalam hidup ini, Banyak sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Banyak hal-hal yang terjadi pada kita. Tetapi satu-satunya hal yang benar-benar penting adalah apa yang terjadi di dalam diri kita. Jadi, manakah diri anda? Apakah anda adalah sebuah kentang, telur, atau biji kopi?
🌐 This article is in Bahasa Indonesia. Blog content is written by the school and is not auto-translated.
Jika hidup ingin lebih dinamis maka kita dituntut untuk lebih kreatif dalam segala hal, termasuk dengan passion yang kita miliki dan kita kembangkan. Seorang peneliti dituntut lebih kreatif agar bisa menemukan hal-hal yang lebih baru, seorang desainer dituntut lebih kreatif agar bisa menciptakan karya yang unusal dan menginspirasi, seorang pebisnis dituntut lebih kreatif agar tidak kalah dengan kompetitornya. Begitu seterusnya.
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan kreativitas dalam diri kita. Tentu bukan persoalan yang sepele, namun harus kita latih secara rutin sehingga nantinya habit kreatif itu akan muncul dengan sendirinya tanpa dipaksa. Ibaratnya seperti gerakan reflek yang dilakukan tanpa kita menyadarinya.
Berikut ini 5 tips menumbuhkan kreativitas yang bisa Anda lakukan.
Pertama – Buat pilihan untuk jadi kreatif. Pertama, Anda harus menghapus pandangan tentang kreatif yang telah tertanam dalam kepala Anda, sebab, kalau masih memikirkan kreatif dalam artian sempit, akan sulit bagi Anda untuk membuka pintu kreativitas. Bangun tekad dalam pilihan Anda ini dan petakan definisi kreatif dari diri Anda sendiri, sertai pula dengan semua kriterianya guna mempermudah pencapaian. Ekspresikan kreativitas Anda dalam salah satu saluran tradisional (seni, musik , puisi dsb), atau lebih bagus lagi jika Anda menemukan cara baru Anda sendiri.
Kedua – Perluas cakrawala Anda. Kreativitas biasanya tak datang dari wilayah yang telah Anda kenal. Menumbuhkan imajinasi kadangakala mengharuskan kita untuk memperluas cakrawala, namun seringkali untuk memulainya, kita tak pernah mengambil resiko keluar dari zona aman kita sendiri. Anda mungkin bisa memulai dengan mengunjungi tempat-tempat yang berbeda, misalnya mengunjungi kota yang berbeda, atau bahkan toko atau tempat makan yang berbeda dari biasanya. Pelajari sesuatu yang baru. Kalau perlu ikutlah kursus dan bangun ketrampilan dalam bidang yang berbeda. Dan itu semua akan merangsang daya imajinasi Anda untuk berkreasi.
Ketiga – Buatlah langkah berani. Salah satu bagian dalam mengeksplorasi kreativitas adalah mengambil sebuah kesempatan dan berani bertindak. Sisi tambahannya, ada banyak aturan di sini, jadi semua usaha tak akan sia-sia dan membawa keutungan.
Keempat – Harapkan sedikit kegagalan….dan jadikan dorongan untuk maju. Salah satu alasan utama menutup pintu kreativitas adalah adanya ketakutan akan kegagalan. Sekali jatuh, atau bahkan mungkin beberapa kali, tak membuat Anda lebih nyaman dalam meghindari kegagalan. Jika ini benar, tak satupun dari kita yang melakukan usaha belajar berjalan. Banyak dari inovasi mengagumkan di dunia ini bermula dari ‘kegagalan.’ Bahkan Thomas Edison harus melakukan usaha 50.000 kali hingga ia berhasil menemukan baterei alkalin yang masih kita gunakan hingga kini.
Kelima – Kenali pencapaian Anda. Seringkali, kita semua melakukan kreativitas atau membuat sesuatu yang baru, dan saat seseorang memberi pujian, kita lebih senang mengelaknya. Jangan memandang rendah setiap hasil yang Anda capai, bahkan meskipun itu hanya sedikit peningkatan. Jika Anda terus mengelak hasil usaha yang Anda capai, itu dapat menutup pintu kretifitas Anda. Jika Anda membuat sebuah kemajuan, yakinkan Anda menghargaiitu, bahkan kalau perlu rayakan bersama teman atau keluarga atau kekasih.
🌐 This article is in Bahasa Indonesia. Blog content is written by the school and is not auto-translated.
Pengertian secara etimologis, kata Full Day School (FDS) berasal dari Bahasa Inggris. Full mengandung makna penuh, dan Day mengandung makna hari. Jadi, pengertian Full Day secara harfiah memiliki arti sehari penuh. Full Day juga memiliki pengertian hari sibuk. Sedangkan School adalah terjemahan dari sekolah. Maka, pengertian Full Day School (FDS) adalah sekolah sepanjang hari penuh atau bisa disebut dengan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilaksanakan sejak pukul 06.45-15.00 WIB. Dengan itu maka, sekolah dapat mengatur jadwal pelajaran dengan leluasa, disesuaikan dengan bobot mata pelajaran dan ditambah dengan pendalaman materi.
Full Day School sendiri muncul sejak awal tahun delapan puluhan di Amerika Serikat. Ketika itu Full Day School (FDS) awalnya hanya diberlakukan untuk tingkat sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) saja dan pada proses selanjutnya segera meluas pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi mulai dari SD hingga menengah atas.
Ada beberapa hal yang melatarbelakangi para orang tua untuk tertarik memasukkan anaknya ke Full Day School (FDS), antara lain yaitu semakin meluasnya kaum ibu yang bekerja di luar rumah dan mereka banyak yang mempunyai anak berusia di bawah 7 tahun, membludaknya jumlah anak-anak usia pra-sekolah yang ditampung di sekolah-sekolah milik publik, makin tingginya pengaruh televisi dan makin meningkatnya mobilitas para orang tua, serta segala kemajuan dan modernitas yang mulai berkembang pesat di semua aspek kehidupan.
Dengan mengikutkan anak mereka ke Full Day School (FDS) ini, para orangtua berharap bisa meningkatkan nilai akademik anak-anak mereka untuk persiapan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya dengan sukses. Dalam hasil sebuah penelitian disebutkan bahwa anak yang menempuh pendidikan di Full Day School (FDS) terbukti mampu lebih baik dalam mengikuti setiap mata pelajaran dan menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan.
Ditinjau dari arti serta proses pelaksanaannya, Full Day School (FDS) ini justru sebagian waktunya dipakai untuk program pelajaran yang bersuasana non-formal, fleksibel, menyenangkan bagi siswa dan memerlukan kreativitas dan sentuhan inovasi dari para guru. Metode pembelajaran Full Day School (FDS) ini tidak selalu dilakukan di dalam kelas saja, akan tetapi siswa dibebaskan untuk memilih dan mencari tempat belajarnya yang senyaman mungkin menurut mereka. Para siswa bisa dan boleh belajar dimana saja seperti halaman, perpustakaan, laboratorium, tempat parkir, di bawah pepohonan dan lain-lain sepanjang masih di lingkungan sekolahan.
Seperti yang telah umum kita ketahui bersama dan banyak ditayangkan di berbagai media massa yang memuat pemberitaan tentang penyimpangan dan kenakalan oleh remaja pada jaman sekarang ini. Faktor ini pula yang pada akhirnya mendorong para orangtua untuk membekali anak-anak mereka dengan sekolah formal dan sekaligus mampu kemudian menyuguhkan kegiatan-kegiatan positif (informal) pada anak mereka.
Dengan program Full Day School (FDS), para orangtua mampu mencegah dan mengeliminir berbagai aktivitas anak yang mengarah pada kegiatan yang bersifat negatif. Banyak alasan mengapa Full Day School (FDS) menjadi pilihan, antara lain:
* Semakin banyaknya jumlah single parent dan semakin kurangnya para orangtua menyisihkan perhatian dan kasih sayang pada anaknya, terutama hal yang berhubungan dengan kegiatan anak pasca pulang sekolah.
* Perubahan sosial budaya yang terjadi di tengah masyarakat, dari masyarakat agraris menuju ke masyarakat industri. Hal ini pasti mempengaruhi pola pikir dan cara pandang masyarakat.
* Kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat.
Dari berbagai kondisi seperti di atas, akhirnya para pelaku pendidikan berusaha sangat keras guna merumuskan suatu paradigma baru dalam dunia pendidikan. Untuk lebih mengoptimalisasi waktu senggang yang dimiliki anak-anak agar lebih bermanfaat, maka diterapkan sistem Full Day School (FDS). Tujuan Full Day School (FDS): membentuk akhlak dan akidah dalam menanamkan nilai-nilai positif serta memberikan pondasi yang kuat dalam belajar di semua aspek.
Harapan dari sistem ini ialah agar para anak didik mempunyai angka produktivitas yang tinggi agar mampu meminimalisasi hal-hal yang bersifat kontra produktif yang dimungkinkan timbul akibat dari pergaulan dalam lingkungan sekitarnya.
🌐 This article is in Bahasa Indonesia. Blog content is written by the school and is not auto-translated.
Filosofis Pendidikan
Pendidikan, seperti yang dijleaskan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Secara filosofis pendidikan merupakan alat untuk memanusiakan manusia yang bersifat humanis, demokratis, ilmiah dan bervisi kerakyatan.
Humanis
Pada dasarnya, pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia. Bagaimana caranya dengan pendiidkan, manusia dapat empunyai ilmu yang bermakna bagi peran dia sebagai manusia dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai pelengkap saja ilmu yang sudah didapat tersebut.
Demokratis
Dalam pelaksanaan pendidikan, hal tersebut bisa terlaksana dengan baik jika melibatka pihak pendidik dan terdidik. Karea pada dasarnya, praktik pendidikan merupakan lahan membentuk demokratisasi dalam kehidupan.
Ilmiah
Hal-hal yang disampaikan patutlah dapat dipertanggungjawaban berdasarkan keilmuan yang jelas dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat. Bukan hanya menjadi asumsi atau pun pendapat pribadi saja.
Bervisi kerakyatan
Karena pada dasarnya objek dari pendidikan merupakan masyarakat yang dimana setelah mengenyam pendidikan haruslah senantiasa kembali kepada masyarakat untuk tujuan memberikan penyadaran juga kepada masyarakat luas. Sehingga ilmu yang sudah didapat dikemudian hari bisa menjadi alat bagi perjuangan rakyat.
Analisis Yuridis
Landasan yuridis merupakan landasan hukum resmi yang mampu menjadi dasar suatu bentuk kerja atau pelaksanaan kegiatan. Landasan yuridis pendidikan berarti landasan hukum yang memayungi aktivitas pendidikan, tentang peserta didik, pendidik, administrasi, bahkan peniayaan. Dalam analisis yuridis pendidikan Indonesia ini, kita akan melihat seperti apa negara Indonesia mengusung sebuah pendidikan untuk memajukan bangsa dan seperti apa pelaksanaannya.
Hak masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tentuya sudah tercantum secara resmi dan sah dalam Undang-undang maupun keputusan-keputusan yang dikeluarkan pemerintah. Landasan hukum yang terkait dengan pendidikan terdapat pada UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan UU nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 4 ayat 1, pasal 5 ayat 1, dan pasal 11 ayat 1.
Pembangunan Nasional dibidang pendidikan dilakukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, melalui pendidikan kualitas sumber daya manusia dapat ditingkatkan sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain. Dalam penyelenggaraannya pemerintah mendapatkan amanat UUD 1945 pasal 31 3 agar “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”. Selain tu, ketentuan-ketentuan pendidikan pun harus sesuai dengan UU nomor 20 Tahun 2003 tentang SPN, yang mengatur segala aturan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.
Ketika diberlakukannya UU nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah Daerah, hal ini ternyata mempengaruhi tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah. Sebelum otonomi daerah ini diatur, penyelenggaraan pendidikan nasional menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, namun setelah otonomi daerah ini disahkan penyelenggaraan pendidikan sebagian besar dilimpahkan kepada pemerintah daerah. Sehingga otonomi daerah mengatur penyelenggaraan pendidikan yang pada akhirnya, menjadikan penyelenggaraan pendidikan memiliki otonominya disetiap daerah.
Contoh dari bentuk otonomi penyelenggaraan pendidikan adalah penerapan manajemen berbasis sekolah. Dengan demikian, penyelenggaraan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip manajemen yang berorientasi pada kemandirian, akuntabilitas, keberlanjutan, dan bekerjasama. Terlihat sangat modern memang, tapi tanpa disadari dengan adanya otonomi penyelenggaraan pendidikan, nantinya setiap lembaga akan mampu menentukan jumlah biaya pendidikan yang mahal dan tidak terjangkau, sekaligus tanggung jawab pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan pun perlahan terlepas.
Dalam penyelnggaraan pendidikan dasar, pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan bantuan dana. Hal itu sesuai dengan amanat pasal 11 ayat 2 UU Sisdiknas nomor 20/2003 menyebutkan bahwa “pemerintah dan pemerintah daerah wajib tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi seluruh warga negara yang berusia dari tujuh hingga lima belas tahun”.
Seanjutnya pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa dipungut biaya. Dengan demikian, semestinya penyelenggaraan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat harus tetap mengedepankan hak asasi dan hak pemenuhan kesempatan memperoleh pendidikan.
Namun, sampai saat ini, baik pemerintah maupun pementah daerah belum sepenuhnya dapat melaksanakan amanat UU nomor 20/2003, terutama dalam mengimplementasikan pasal-pasal di atas. Dalam penyelenggaraan program wajib belajar pendidikanpendidikan dasar misalnya, rencana pemerintah untuk menyekolahkan warga yang berumur tujuh tahun sampai 15 tahun secara gratis (melalui dana BOS), pada praktiknya tidak berjalan dengan baik.
Metode dan Kurikulum
Metode dan Kurikulum merupakan dua unsur yang tidak bisa dipisahkan dalam penyelenggaraan pendidikan. Keduanya dikembalikan kepada pendidikan dalam melaksanakan praktik pendidikan, tapi tetap dalam aturan dan teori pembelajaran.
Metode merupakan upaya yang dilakukan oleh pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal. Sedangkan kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegaiatn pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal.
Kurikulum sangatlah penting dalam penyelenggaraan pendidikan karena kurikulum pada dasarnya merupakan landasan penyelenggaraan pembelajaran yang dilakukan oleh para pendidik. Tentu saja rencana dan strategi yang dilakukan oleh pendidik tergantung konsep kurikulumnya.
Dhea Eka Pratama
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIKA Soegijapranata
Sumber :Kompasiana 9. Tanggal :06.12.2017 jam.16.06
🌐 This article is in Bahasa Indonesia. Blog content is written by the school and is not auto-translated.
Pemerintah melalui Kemdikbud saat ini tengah menggalakkan Gerakan Literasi. Sasaran gerakan ini adalah semua lapisan masyarakat mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat secara umum. Pemerintah berharap semua elemen masyarakat tersebut bersatu, bergerak, dan membentuk sebuah sebuah ekosistem untuk memajukan budaya literasi di Indonesia.
Literasi di sini bukan hanya identik dengan baca dan tulis, tetapi juga literasi media, literasi budaya, literasi teknologi, literasi keuangan, dan sebagainya. Intinya, setiap masyarakat dapat melek literasi sebagai modal untuk menjadi manusia yang maju, modern, dan berperadaban.
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia tertinggal dalam hal literasi. Walau demikian, bukan hal yang terlambat mana kala Indonesia saat ini menggelorakan Gerakan Literasi, bahkan gerakan ini harus dilakukan dengan sangat masif untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa lain.
Geliat dan hingar bingar gerakan literasi sudah mulai terasa di sekolah-sekolah. Antara lain dengan adanya pembiasaan membaca buku non pelajaran selama 15 menit. Selain itu, juga dibentuk sudut-sudut baca (reading corner) di ruang kelas, optimalisasi perpustakaan sekolah, tantangan membaca (reading challenge), kegiatan membaca secara massal, membuat sinopsis buku yang telah dibaca, expo literasi, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut tergantung kepada kreativitas sekolah masing-masing.
Kegiatan literasi di sekolah biasanya dikelola oleh seorang atau beberapa guru yang memang memiliki kepedulian dan mampu mengelola gerakan ini dengan baik. Mereka adalah para pejuang literasi yang kadang dalam melaksanakan program tersebut dihadapkan pada berbagai kendala atau tantangan baik yang datang dari dalam sekolah sendiri maupun dari luar. Walau demikian, mereka tetap bekerja dan bergerak, karena niat mereka untuk membangun dan membumikan gerakan literasi di sekolah. Dan mereka telah jatuh cinta terhadap dunia literasi.
Penumbuhan Budi Pekerti
Gerakan literasi merupakan bagian tidak terpisahkan dari gerakan penumbuhan budi pekerti. Menurut Saya, ada tujuh nilai budi pekerti yang dapat diambil dari kegiatan literasi, antara lain: Pertama, rasa ingin tahu. Orang yang membaca buku memiliki rasa ingin tahu tentang masalah yang ingin diketahuinya. Bahkan bukan hanya dari buku, dia akan membaca dari sumber-sumber lain, bertanya atau berdiskusi dengan yang orang lain yang dia anggap dapat memberi tahu. Sebagai orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dia haus akan informasi dan ilmu, serta tidak malu bertanya. Dalam pribahasa sunda dikenal istilah bodo aléwoh yang artinya mau bertanya kepada siapapun orang yang dinilainya lebih tahu. Orang yang yang banyak baca dan banyak tanya tentunya akan menjelma menjadi manusia yang awalnya serba tidak tahu menjadi serba tahu.
Kedua, mental ingin maju. Orang yang rajin membaca tentunya memiliki cita-cita atau keinginan agar dirinya maju atau kualitas hidupnya meningkat. Para pengusaha mendapatkan ilmu tentang kesuksesan disamping mengikuti seminar atau pelatihan bisnis, juga dia sering membaca buku-buku tentang marketing yang efektif. Dan hasilnya, banyak diantara mereka yang pada awalnya usahanya terpuruk dan jatuh bangkrut, tetapi setelah membaca buku-buku tips dan motivasi sukses dari para pengusaha sukses, dia berhasil bangkit dan meraih kesuksesan.
Ketiga, berpikir kritis dan analitis. Orang yang banyak membaca akan memiliki kemampuan berpikir kritis dibandingkan dengan orang yang tidak membaca. Kemampuan analisisnya pun kian terasah. Setiap kata dan kalimat yang dibacanya mendorongnya untuk terus berpikir dan menganalisis. Tidak jarang ide menulis muncul ketika dia sedang atau setelah membaca buku. Dengan kata lain, aktivitas membaca buku membuat otaknya terus bekerja dan menghasilkan pemikiran-pemikiran baru.
Keempat, keinginan untuk berbagi. Setelah membaca buku, tentunya seseorang mendapatkan ilmu, dan ilmu tersebut akan semakin bermanfaat jika dibagikan kepada orang lain. Baginya, ilmu yang dibagikan kepada orang lain akan semakin menambah kebermanfaatan dan keberkahan. Ada nilai ibadah dan kepuasan dari ilmu yang dibagikan kepada orang lain.
Kelima, disiplin. Orang yang membaca buku tentunya akan disiplin menyempatkan waktu untuk membaca. Sesibuk apapun, dia akan pandai mengatur waktu untuk membaca. Baginya, membaca adalah sebuah kebutuhan sekaligus kewajiban yang harus ditunaikan. Orang yang rajin membaca biasanya memiliki target bacaan yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu. Jika dalam satu hari dia terlewat tidak membaca, maka dia akan “membayar” hutang bacaan pada hari berikutnya. Dengan membiasakan membaca, maka hidupnya akan teratur.
Keenam, kerja keras. Orang yang membaca tentunya membutuhkan kerja keras untuk melakukannya. Membaca memang bisa menggunaan metode cepat (skimming) atau metode lambat, atau membaca lembar-lembar per lembar. Untuk mengetahui gambaran umum atau bagian tertentu dari buku, apalagi waktu yang terbatas bisa dilakukan melalui skimming, tetapi jika ingin memahami secara mendalam, maka dia harus membaca lembar demi lembar, bahkan harus mengulang-ulang membacanya. Cara membaca seperti itu, tentunya memerlukan waktu dan energi yang banyak.
Ketujuh, bersyukur. Aktivitas membaca tentunya membutuhkan kesehatan yang prima. Orang yang sakit akan kurang bersemangat atau mungkin sama sekali tidak mau membaca. Boro-boro membaca, yang ada adalah tentunya ingin istirahat atau menghabiskan waktu di tempat tidur. Oleh karena itu, aktivitas membaca adalah sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap nikmat sehat yang dianugerahkan Allah SWT. Semakin banyak membaca, maka insya Allah tingkat rasa syukur pun akan semakin meningkat. Dan ketika seorang manusia banyak bersyukur, niscaya Allah akan menambah nikmatnya, antara lain badannya semakin bugar, atau matanya semakin sehat. Banyak orang tua yang belum menggunakan kaca mata justru karena matanya digunakan untuk membaca.
Berdasarkan kepada uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas membaca bukan hanya membuka demi lembar buku, atau hanya mendapatkan ilmu saja, tetapi ada sekian banyak pelajaran yang dapat diambil. Membaca dapat membentuk karakter atau menumbuhkan budi pekerti seorang manusia. Oleh karena itu, sudah waktunya membaca menjadi kebutuhan, kebiasaan, dan gaya hidup masyarakat.
Aktivitas membaca mampu membentuk individu dan masyarakat yang haus akan ilmu pengetahuan, menghargai ilmu pengetahuan, dan ingin menyebarkan ilmu pengetahuan. Efek-efek positif seperti ini diharapkan muncul dan tumbuh subur dalam kehidupan mastarakat kita. Aktivitas membaca pun akan melahirkan manusia-manusia pembelajar, manusia pemikir, manusia peneliti, dan manusia pelaku perubahan. Ayo giatkan membaca untuk hidup yang lebih baik.
Oleh: IDRIS APANDI, M.Pd.
(Widyaiswara LPMP Jawa Barat, Ketua Komunitas Pegiat Literasi Jabar/KPLJ)
🌐 This article is in Bahasa Indonesia. Blog content is written by the school and is not auto-translated.
Rendahnya literasi di Indonesia disebabkan oleh masyarakat yang kurang sadar akan manfaatnya. Lebih dari itu, beberapa orang bahkan masih belum mengerti makna literasi. Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Keduanya belum menjadi budaya di negara kita. Padahal, perkembangan ilmu dan budaya harus dimulai dari keduanya
Beberapa lembaga survei menyatakan fakta tentang rendahnya budaya literasi di Indonesia. Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan, pada tahun 2012 budaya literasi di Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negera yang disurvei. Pada penelitian yang sama ditunjukkan, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara dalam kategori minat baca. Data Unesco menyebutkan posisi membaca Indonesia 0.001%—artinya dari 1.000 orang, hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca. Hasil survei tersebut cukup memprihatinkan.
Orang Indonesia memang lebih terbiasa mendengar dan berbicara daripada berliterasi. Coba lihat saja, berapa waktu yang rata-rata orang habiskan untuk menonton televisi per hari? Berapa waktu yang digunakan untuk mengobrol? Bandingkan dengan sedikitnya waktu yang disisihkan untuk membaca dan menulis.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya budaya literasi tersebut, antara lain:
1. Kebiasaan Membaca Belum Dimulai dari Rumah
Aktivitas membaca masih belum dibiasakan dalam ranah keluarga. Orang tua hanya mengajarkan membaca dan menulis pada level bisa, belum terbiasa. Padahal, budaya literasi harus dibiasakan sejak kecil. Misalnya, membiasakan membaca cerita untuk anak atau mengajarkan menulis buku harian.
2. Perkembangan Teknologi yang Makin Canggih
Teknologi yang makin canggih ternyata turut meninggalkan budaya literasi di Indonesia. Orang-orang lebih suka bermain dengan gawai daripada membaca. Membaca jadi terasa menjemukan dibandingkan dengan bermain gawai.
Teknologi yang makin canggih juga diimbangi dengan media sosial yang makin banyak. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, dan lainnya memungkinkan Anda membaca berita palsu. Sebetulnya, berita hoax tersebut dapat diperangi dengan budaya literasi. Teknologi yang makin canggih seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan bahan literasi.
3. Sarana Membaca yang Minim
Sarana membaca yang minim ternyata juga membuat kebiasaan membaca ini sulit dilakukan. Sarana tersebut misalnya perpustakaan. Bagaimana kondisi buku di perpustakaan sekolah atau kota Anda?
Apakah koleksinya masih buku-buku lama? Apakah Anda sering menemukan buku yang Anda cari di sana? Buku-buku lama dan minimnya koleksi perpustakaan membuat orang-orang malas berkunjung.
Sistem inventarisasi perpustakaan yang membutuhkan waktu lama, sering kali menjadi penyebab buku baru tidak bisa segera dipinjam. Selain itu, sistem pengadaan buku yang tidak ditangani oleh orang-orang yang kurang kompeten, membuat koleksi perpustakaan kurang maksimal di beberapa tempat. Ketersediaan buku-buku berkualitas yang minim juga termasuk salah satu penyebab orang malas membaca.
4. Kurang Motivasi untuk Membaca
Kurang minat baca adalah penyebab rendahnya budaya literasi di Indonesia. Terkadang, beberapa orang merasa tidak mengerti manfaat membaca sehingga tidak tertarik untuk melakukannya. Membaca membutuhkan waktu khusus memang, tetapi membaca itu memiliki banyak manfaat. Guru yang lebih banyak memberikan ceramah kepada siswa juga ikut melemahkan budaya literasi.
Segala informasi sudah didapatkan dari guru sehingga siswa kurang terbiasa membaca. Bahkan, siswa merasa tidak perlu membaca karena menganggap informasi yang datang dari guru selalu benar.
5. Sikap Malas untuk Mengembangkan Gagasan
Literasi tidak hanya membaca, tetapi dilanjutkan dengan menulis. Bagaimana dapat terampil menulis jika jarang membaca? Menulis membutuhkan kosakata yang akan diperoleh dari membaca.
Setelah memiliki bahan untuk menulis, tantangan selanjutnya adalah mengembangkan gagasan. Hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup untuk pengendapan ide. Proses itulah yang biasanya membuat orang malas menulis.
Nah, Itulah beberapa ulasan penyebab budaya literasi di Indonesia rendah. Padahal, membaca akan membuka wawasan baru. Sesuatu yang belum Anda temui di lingkungan, belum diajarkan oleh orang tua, dan belum dijelaskan oleh guru bisa didapatkan dengan membaca. Mari membaca karena buku adalah jendela dunia! Mari menulis karena tulisan adalah pengikat ilmu! disadur oleh : wiwin widia
Sumber :
www.educenter.id 6 Desember 2017: 09.50
Visi & MisiVision & Mission
Membangun Generasi Berakhlak & Berdaya SaingBuilding a Generation of Character & Competence
Sejak 1996, SMK Ciledug Al-Musaddadiyah di bawah naungan Yayasan Al-Musaddadiyah berkomitmen menghadirkan pendidikan bermutu yang menggabungkan nilai keislaman, keunggulan akademik, dan keterampilan vokasional.
Since 1996, SMK Ciledug Al-Musaddadiyah under the Al-Musaddadiyah Foundation has been committed to providing quality education that integrates Islamic values, academic excellence, and vocational skills.
🕌
Iman & Akhlak
Faith & Character
Menanamkan nilai-nilai Islam sebagai landasan karakter siswa yang berintegritas tinggi.
Instilling Islamic values as the foundation of students' high-integrity character.
📚
Ilmu & Kompetensi
Knowledge & Competence
Kurikulum relevan dan fasilitas modern untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja.
Relevant curriculum and modern facilities to prepare students for the world of work.
🚀
Inovasi & Prestasi
Innovation & Achievement
Mendorong siswa berprestasi di tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga nasional.
Encouraging students to achieve at the district, provincial, and national levels.
PrestasiAchievements
Pencapaian yang MembanggakanOur Proud Achievements
Rekam jejak siswa SMKS Ciledug Al Musaddadiyah Garut — dari tingkat regional hingga nasional, sepanjang 2022–2026.
Track record of SMKS Ciledug Al Musaddadiyah Garut students — from regional to national level, throughout 2022–2026.
🏆
20+
Total Prestasi
Total Achievements
2022–2026
⭐
A+
Akreditasi BAN-S/M
BAN-S/M Accreditation
Resmi Pemerintah
🎓
5.000+
Alumni Berprestasi & Berkarier
Successful Alumni
Terverifikasi
🌐
1+
Alumni Beasiswa (PKNU Korea)
International Scholarship Alumni (PKNU Korea)
Internasional
Tingkat nasionalNational level
Tingkat provinsiProvincial level
Tingkat regional / kabupatenRegional / district level
KerjasamaPartnerships
Mitra Kampus & IndustriAcademic & Industry Partners
Lulusan SMK CALM siap melanjutkan ke perguruan tinggi terkemuka dan berkarier di perusahaan mitra kami.
SMK CALM graduates are ready to continue at leading universities and build careers at our partner companies.
ITG Garut
Universitas Garut
IPI Garut
STAI Al Musaddadiyah
UPI Bandung
UIN SGD
Pukyong National University
Telkom University
ITG Garut
POLBAN
UPI Bandung
Universitas Terbuka
STIE Yasa Anggana
IPI Garut
STIKES Karsa Husada Garut
Telkom University
Bekerja sama dengan 8+ Perguruan Tinggi terkemukaPartnered with 8+ Leading Universities
Perumda BPR Garut
Maxprint
CV. Alnda Maju Berjaya
Bank BNI
Telkom Indonesia
Pintar Bersama Daihatsu
Haltech 3D Indonesia
Mobidu
Honda
Perumda BPR Garut
Maxprint
CV. Alnda Maju Berjaya
Bank BNI
Telkom Indonesia
Pintar Bersama Daihatsu
Haltech 3D Indonesia
Mobidu
Toyota
Bermitra dengan 9+ Perusahaan Industri untuk PKL & penempatan kerjaPartnered with 9+ Industry Companies for internship & job placement
Inspirasi AlumniAlumni Inspiration
Suara Alumni CALMAlumni Voices
Live dari Database SMK — diperbarui otomatisLive from Google Sheet — auto updated
★★★★★
“SMK CALM bukan hanya memberiku keahlian teknis, tapi juga membentuk karakter saya menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.”
A
Ahmad Fauzi
Alumni TKJ — IT Support BUMN
★★★★★
“Guru-gurunya profesional dan peduli. Program Bisnis Digital di sini langsung praktikal dan siap diimplementasikan di dunia nyata.”
S
Siti Nurhaliza
Siswa Aktif — Bisnis Digital
★★★★★
“Fasilitas sekolah pasca-revitalisasi sangat lengkap. Anak saya makin semangat belajar dan prestasinya meningkat pesat.”
B
Bapak Hendra
Orang Tua Siswa
★★★★★
“Alhamdulillah, berkat bimbingan guru-guru SMK CALM saya berhasil meraih beasiswa kuliah di PKNU Korea. Pengalaman di sini benar-benar membuka jalan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.”
A
Anggi Nurahman
Alumni SMK CALM — Penerima Beasiswa PKNU Korea
★★★★★
“SMK CALM membentuk saya menjadi seorang profesional. Ilmu teknik dan karakter yang ditanamkan di sini menjadi fondasi karir saya hingga sekarang.”
A
Almiansyah Nurdin, S.T.
Alumni TKJ — Tenaga Ahli Teknik
★★★★★
“Jurusan DKV di sini bukan sekadar teori — saya langsung praktik desain profesional dan sekarang sudah punya klien sendiri sebelum lulus. SMK CALM benar-benar menyiapkan kami untuk dunia nyata.”
R
Reza Maulana
Alumni DKV — Freelance Desainer Grafis
★★★★★
“Lingkungan pesantren di SMK CALM membuat saya tumbuh bukan hanya cerdas akademik, tapi juga berakhlak. Sekarang saya bisa kerja sambil terus belajar agama — dua hal yang tidak bisa dipisahkan.”
N
Nurul Aeni
Alumni AKL — Staf Keuangan Perusahaan Swasta
★★★★★
“Berkat PKL dan koneksi industri yang difasilitasi SMK CALM, saya langsung diterima kerja di bengkel resmi bahkan sebelum resmi wisuda. Pengalaman praktik di sini sangat mendalam.”
D
Deni Firmansyah
Alumni TKR — Teknisi Bengkel Resmi
★★★★★
“Saya pilih SMK CALM karena rekomendasi kakak kelas, dan ternyata tidak mengecewakan sama sekali. Program Bisnis Digital membuka wawasan saya tentang peluang di era digital — dan kini saya jalani usaha online sendiri.”
F
Fitri Rahayu
Alumni Bisnis Digital — Wirausaha Online
TestimoniTestimonials
Kata Mereka tentang SMK CALMWhat They Say about SMK CALM
★★★★★
“SMK CALM membentuk saya menjadi seorang profesional. Ilmu teknik dan karakter yang ditanamkan di sini menjadi fondasi karir saya hingga sekarang.”
A
Almiansyah Nurdin, S.T.
Alumni TKJ — Tenaga Ahli Teknik
★★★★★
“Jurusan DKV di sini bukan sekadar teori — saya langsung praktik desain profesional dan sekarang sudah punya klien sendiri sebelum lulus. SMK CALM benar-benar menyiapkan kami untuk dunia nyata.”
R
Reza Maulana
Alumni DKV — Freelance Desainer Grafis
★★★★★
“Berkat PKL dan koneksi industri yang difasilitasi SMK CALM, saya langsung diterima kerja di bengkel resmi bahkan sebelum resmi wisuda. Praktik langsung di sini benar-benar membuka peluang karir yang nyata.”
D
Deni Firmansyah
Alumni TKR — Teknisi Bengkel Resmi
★★★★★
“Di SMK CALM saya bukan hanya belajar teori mesin, tapi langsung turun ke bengkel setiap hari. Sekarang saya bekerja di dealer resmi Honda — semua dimulai dari skill yang dibangun di sini.”
Y
Yusuf Hidayat
Alumni TSM — Mekanik Dealer Resmi Honda
★★★★★
“Alhamdulillah, berkat bimbingan guru-guru SMK CALM saya berhasil meraih beasiswa kuliah di PKNU Korea. Jurusan Manajemen Perkantoran mengajarkan saya kedisiplinan dan manajemen diri yang sangat berharga.”
A
Anggi Nurahman
Alumni MP — Penerima Beasiswa PKNU Korea
★★★★★
“Lingkungan pesantren di SMK CALM membuat saya tumbuh bukan hanya cerdas akademik, tapi juga berakhlak. Ilmu akuntansi yang saya pelajari di sini langsung saya terapkan di dunia kerja.”
N
Nurul Aeni
Alumni AKL — Staf Keuangan Perusahaan Swasta
★★★★★
“Program Bisnis Digital di SMK CALM membuka wawasan saya tentang peluang di era digital. Kini saya menjalankan usaha online sendiri — semua berkat ilmu dan motivasi yang saya dapat di sini.”
F
Fitri Rahayu
Alumni Bisnis Digital — Wirausaha Online
★★★★★
“Belajar di SMK CALM terasa menyenangkan karena gurunya sabar dan fasilitasnya lengkap. Saya semakin yakin bahwa pilihan masuk SMK CALM adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat.”
M
Muhammad Rizki
Siswa Aktif — Teknik Jaringan Komputer
★★★★★
“Fasilitas sekolah pasca-revitalisasi sangat lengkap. Anak saya makin semangat belajar dan prestasinya meningkat pesat. Terima kasih SMK CALM atas pembinaan yang luar biasa.”
B
Bapak Hendra
Orang Tua Siswa
🎬 Video Testimoni Lulusan SMKS CalmGraduate Testimonial Videos
“Anggi Nurahman — Perjalanan Lulusan SMKS Ciledug Al Musaddadiyah Garut Mendapatkan Beasiswa di PKNU.”
“Almiansyah Nurdin, ST — Testimoni Lulusan SMKS Ciledug Al Musaddadiyah Garut.”
“Prada Dede Awaludin — Angkatan Tahun 2021 ”
“Dika Catur Peradana Angkatan XXVI — Testimoni Lulusan SMKS Ciledug Al Musaddadiyah Garut ”
“
Kolaborasi Hebat dari Garut: — SMK Ciledug Al Musaddadiyah X ITGA X Ciplaz.”
Sistem Penerimaan Murid Baru 2026/2027New Student Enrollment 2026/2027
Wujudkan Impianmu Bersama SMK CALMRealize Your Dream with SMK CALM
SMKS Ciledug Al-Musaddadiyah — Garut, Jawa Barat
Sejak 1996, kami telah membimbing ribuan lulusan menjadi insan yang beriman, terampil, dan berdaya saing tinggi. Kini giliran kamu untuk melangkah dan menulis kisah suksesmu bersama keluarga besar SMK CALM.Since 1996, we have guided thousands of graduates to become faithful, skilled, and highly competitive individuals. Now it's your turn to step forward and write your success story with the SMK CALM family.
🎍 Akreditasi A BAN-S/M🎍 BAN-S/M Grade A📚 7 Program Keahlian📚 7 Study Programs🤝 Mitra Industri & DUDI🤝 Industry Partners🎓 Beasiswa Tersedia🎓 Scholarships Available🏛 Gedung Revitalisasi 2025🏛 Revitalized Building 2025💼 Bursa Kerja Khusus💼 Job Placement Service
28+Tahun PengalamanYears of Experience
5.000+Alumni Berprestasi dan BerkarierSuccessful Alumni