GARUT – Semangat menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup menggema di lingkungan SMKS Ciledug Al-Musaddadiyah Garut. Dalam rangka memperingati World Cleanup Day (WCD) 2026 sekaligus menindaklanjuti imbauan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, sekolah menggelar aksi deep cleaning secara serentak pada Jumat, 18 September 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen SMKS Ciledug Al-Musaddadiyah untuk membangun budaya sekolah yang bersih, sehat, tertib, dan berwawasan lingkungan. Lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih, aksi ini dirancang sebagai gerakan bersama untuk menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah dan masyarakat.
Aksi deep cleaning melibatkan seluruh civitas akademika SMKS Ciledug Al-Musaddadiyah, mulai dari guru, tenaga kependidikan, hingga ratusan peserta didik. Seluruh peserta bergerak secara terorganisir melalui pembagian tim dan zona kerja yang telah ditentukan.
Fokus utama kegiatan diarahkan pada pengumpulan, pemilahan, dan pendataan sampah nonorganik yang ditemukan di lingkungan sekolah maupun kawasan sekitar. Area yang menjadi sasaran aksi tidak hanya mencakup lingkungan internal sekolah, tetapi juga wilayah sekitar hingga radius kurang lebih 300 meter.
Sejak pagi, berbagai sudut lingkungan sekolah mulai disisir secara sistematis. Ruang kelas, laboratorium, fasilitas umum, halaman sekolah, hingga akses jalan di sekitar lingkungan sekolah menjadi bagian dari area yang dibersihkan. Para peserta bekerja dalam kelompok-kelompok kecil dengan penuh antusiasme, menciptakan suasana gotong royong yang menjadi kekuatan utama dalam kegiatan tersebut.
Kepala Sekolah: Kepedulian Lingkungan Harus Menjadi Bagian dari Karakter Siswa
Kepala SMKS Ciledug Al-Musaddadiyah Garut, H. M. Nasrullah Ramdhan, M.Si., menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan aksi deep cleaning tersebut. Menurutnya, kegiatan menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian penting dari proses pendidikan karakter peserta didik.
“Kami sangat mendukung kegiatan deep cleaning dalam rangka World Cleanup Day 2026 ini. Bagi kami, kegiatan seperti ini bukan hanya tentang membersihkan lingkungan sekolah, tetapi juga merupakan proses pendidikan untuk menanamkan kesadaran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian kepada peserta didik,” ujar H. M. Nasrullah Ramdhan, M.Si.
Ia menambahkan, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan positif sejak dini. Kepedulian terhadap lingkungan, menurutnya, tidak cukup hanya disampaikan melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi perlu diwujudkan melalui praktik nyata.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan secara teori, tetapi juga mengalami dan melakukannya secara langsung. Ketika mereka bersama-sama membersihkan, memilah, dan mendata sampah, di situlah nilai gotong royong, kepedulian, dan tanggung jawab tumbuh secara nyata,” lanjutnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga sejalan dengan upaya sekolah dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancawaluya: Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur Singer.
“Lingkungan yang bersih akan mendukung terciptanya lingkungan belajar yang sehat dan nyaman. Lebih jauh lagi, kami berharap kegiatan ini dapat membentuk kebiasaan yang terus dibawa oleh siswa, bukan hanya ketika berada di sekolah, tetapi juga di rumah dan di tengah masyarakat,” katanya.
Tidak Sekadar Bersih-Bersih, tetapi Membangun Kesadaran
Bagi SMKS Ciledug Al-Musaddadiyah, aksi deep cleaning tidak berhenti pada aktivitas mengumpulkan sampah. Kegiatan ini juga menjadi media pembelajaran kontekstual bagi peserta didik untuk memahami persoalan lingkungan secara langsung.
Siswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, khususnya sampah nonorganik yang memiliki karakteristik dan potensi pengelolaan berbeda. Sampah yang berhasil dikumpulkan kemudian dipilah dan ditimbang secara sistematis sehingga kegiatan memiliki data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pendekatan tersebut memberikan pengalaman kepada peserta didik bahwa sebuah gerakan lingkungan tidak hanya membutuhkan tenaga dan kepedulian, tetapi juga ketelitian, kedisiplinan, kolaborasi, serta pengelolaan data.
Nilai-nilai tersebut sekaligus menjadi bagian dari implementasi karakter Pancawaluya, yakni Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur Singer. Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk menjadi pribadi yang sehat dan peduli (Cageur), memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan (Bageur), bertindak sesuai nilai kebaikan (Bener), memiliki pengetahuan (Pinter), serta cekatan dan tanggap dalam menghadapi persoalan di lingkungan sekitar (Singer).
Keselamatan Menjadi Bagian Penting Kegiatan
Dalam pelaksanaannya, sekolah juga memberikan perhatian terhadap aspek keselamatan dan kesehatan peserta. Setiap peserta diwajibkan menggunakan perlengkapan yang sesuai, antara lain sarung tangan dan sepatu tertutup, terutama saat melakukan kegiatan di area luar sekolah.
Selain itu, sekolah menyiagakan tim medis dan kotak Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) di sejumlah zona aksi sebagai bentuk antisipasi selama kegiatan berlangsung.
Pengaturan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memastikan kegiatan berjalan secara tertib, aman, dan nyaman bagi seluruh peserta.
Dari Lingkungan Sekolah untuk Gerakan Global
Semangat World Cleanup Day juga diwujudkan melalui upaya pendataan hasil aksi. Sampah nonorganik yang berhasil dikumpulkan, dipilah, dan ditimbang selanjutnya didokumentasikan untuk didaftarkan melalui platform resmi River Cleanup, sehingga capaian kegiatan dapat tercatat dan terintegrasi dalam gerakan kebersihan lingkungan yang lebih luas.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa kegiatan lingkungan di sekolah diarahkan tidak hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan yang memiliki data, dokumentasi, dan tindak lanjut.
Untuk memastikan sampah yang telah terkumpul mendapatkan penanganan sebagaimana mestinya, pihak SMKS Ciledug Al-Musaddadiyah juga melakukan koordinasi dengan otoritas kewilayahan setempat.
Menanamkan Budaya Peduli Lingkungan
Kegiatan deep cleaning menjadi momentum penting bagi SMKS Ciledug Al-Musaddadiyah dalam memperkuat budaya peduli lingkungan di kalangan peserta didik. Lingkungan sekolah dipandang bukan sekadar tempat berlangsungnya proses pembelajaran, melainkan juga ruang pendidikan yang memberikan pengalaman nyata tentang kehidupan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan tersebut, para siswa diharapkan memahami bahwa persoalan sampah dan kebersihan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kesadaran bersama, kebiasaan yang konsisten, serta kolaborasi antara sekolah, peserta didik, keluarga, dan masyarakat.
Bagi sekolah, pendidikan lingkungan merupakan investasi karakter jangka panjang. Kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, menjaga fasilitas umum, serta tidak membiarkan lingkungan tercemar merupakan bagian dari karakter yang perlu ditanamkan secara terus-menerus.
Dengan semangat World Cleanup Day 2026, SMKS Ciledug Al-Musaddadiyah kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi dan keahlian, tetapi juga pada pembentukan generasi yang memiliki karakter, kepedulian sosial, kesadaran lingkungan, dan tanggung jawab terhadap masa depan.
Sebab, menjaga lingkungan bukan sekadar tentang membuat tempat menjadi bersih hari ini. Lebih dari itu, ia merupakan ikhtiar bersama untuk mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi yang akan datang.
SMKS Ciledug Al-Musaddadiyah Garut — Bersih lingkungannya, kuat karakternya, cerah masa depannya.





















.png)
.png)




.png)

.png)