GARUT – Ada sosok-sosok yang meski raganya telah tiada, detak jantung perjuangannya masih terasa di setiap sudut bangunan dan semangat para pembelajar. Beliau adalah Almarhum Ir. KH. Abdullah Margani, putra dari ulama besar sekaligus pahlawan nasional asal Garut, Prof. KH. Anwar Musaddad.
Tepat pada hari Sabtu, 9 Mei 2026, keluarga besar Yayasan Al Musaddadiyah bersama civitas akademika SMKS Ciledug Al Musaddadiyah menyelenggarakan doa bersama dalam rangka Haul beliau yang wafat pada 27 April 2006 silam. Bagi SMKS Ciledug Al Musaddadiyah, sosok almarhum bukan sekadar pemimpin, melainkan peletak batu pertama kemajuan dan orang yang paling berjasa dalam membesarkan institusi ini hingga menjadi salah satu sekolah vokasi rujukan di Kabupaten Garut.
Warisan Intelektual dan Spiritual Sebagai putra dari KH. Anwar Musaddad, Ir. KH. Abdullah Margani mewarisi keteguhan prinsip sang ayah dalam memadukan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Beliau dikenal sebagai pribadi yang memiliki visi jauh ke depan, yang percaya bahwa santri dan siswa harus memiliki keterampilan teknis (vokasi) yang mumpuni tanpa meninggalkan akar moralitas keislaman.
Peran beliau dalam pembangunan fisik maupun pengembangan kurikulum SMKS Ciledug Al Musaddadiyah menjadi bukti nyata baktinya terhadap dunia pendidikan. Beliau adalah sosok yang memberikan teladan tentang kerja keras yang sunyi; membangun tanpa harus dikenal, dan memberi tanpa harus disebut.
Haul sebagai Refleksi Perjuangan Peringatan Haul yang dilaksanakan di Mesjid Besar Al-Musaddadiyah pada sore ini bukan sekadar prosesi kirim doa, melainkan momen refleksi bagi seluruh guru dan staf untuk terus menjaga amanah yang telah beliau titipkan.
"Menjaga sekolah ini adalah cara terbaik kita menghormati jasa beliau. Semangat beliau dalam memajukan pendidikan harus tetap hidup dalam setiap materi yang kita ajarkan kepada siswa," ungkap perwakilan yayasan.
Melalui doa yang dipanjatkan, besar harapan agar segala amal jariyah almarhum dalam dunia pendidikan terus mengalir, dan SMKS Ciledug Al Musaddadiyah tetap tegak berdiri sebagai menara ilmu yang bermanfaat bagi umat, persis seperti mimpi yang beliau rajut semasa hidup.













.png)
.png)




.png)

.png)